Minggu, 14 April 2013

TUGAS WAWANCARA

BAB 1 PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan instrumen penting dalam mempersiapkan generasi yang berguna, karena diyakini dapat mendorong memaksimalkan potensi peserta didik. Dengan adanya pendidikan, potensi peserta didik akan terus digali dan menghasilkan individu-individu yang cermat dan siap menghadapi dan menyelesaikan hambatan-hambatan yang ada. Selain itu, mereka juga turut berperan dalam pembangunan bangsa. Tentu saja hal tersebut tidak lepas dari peran seorang guru. Guru merupakan pendidik professional yang bertugas mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik. Umumnya, pendidikan guru didapat melalui jalur formal. Namun secara luas, setiap orang yang mengajarkan hal-hal yang dianggap penting juga dapat dikatakan sebagai seorang guru.
Guru dituntut untuk dapat menciptakan suasana belajar-mengajar yang nyaman, kreatif dan tidak monoton dari hari ke hari. Guru harus dapat menciptakan suasana komunikasi dua arah yang efektif, yang menuntut peran aktif peserta didik dalam mengikuti proses belajar mengajar. Selain itu, guru juga sebaiknya mencerminkan keterpelajaran, integritas pribadi, serta kemampuan berkomunikasi yang baik. Hal ini diharapkan dapat membantu peserta didik dalam meningkatkan pengetahuan mereka.
Namun, hal itu tidak terlepas dari persiapan yang harus dibuat guru sebelum mengajar. Beliau harus menguasai bahan ajar baik secara materi maupun tertulis sistematis. Saat mengajar, beliau harus dapat menguasai kelas dan peserta didik. Setelah itu, sebaiknya guru memberikan evaluasi kepada peserta didik yang dimaksudkan untuk mengukur sejauh mana kemampuan peserta didik dalam memahami dan menelaah materi pelajaran yang diberikan.
Pemberian materi saat proses belajar mengajar menuntut banyak aspek profesionalisme sebagai seorang guru. Guru harus dapat menjadi teladan, cerdas, berintegritas serta tidak menjadi superperson. Seorang guru juga diharapkan memiliki pengetahuan yang luas dan terbuka terhadap hal baru seperti penggunaan teknologi informatika, guna menyempurnakan kualitas belajar mengajar.
Maka, dapat disimpulkan bahwa guru diharapkan mengerti dan menerapkan prinsip paedagogi (seni mengajar) yang dicerminkan melalui gaya mengajar apa saja, asalkan dengan gaya tersebut beliau mampu membuat standar dan perilaku mengajar yang memungkinkan siswa dapat belajar dengan mudah dan benar.

BAB II HASIL WAWANCARA

1.  IDENTITAS GURU
Nama                                             : R.M.Hutagalung
Usia                                               : 63 tahun
Mata pelajaran yang diajarkan        : Kimia
Tanggal wawancara                         : 6 April 2013
Tempat dan Waktu wawancara        : Rumah Ibu R.M.Hutagalung, pkl 19.00 WIB

2.  HASIL WAWANCARA
Ibu R.M.Hutagalung merupakan teman ibu saya, maka saya memanggil beliau dengan sebutan ‘tante’. Wawancara ini berlangsung di kediaman Tante Hutagalung di daerah Namorambe,Medan. Wawancara ini berlangsung pada malam hari sekitar pukul 7 malam, dikarenakan kesibukan Tante Hutagalung dengan profesinya dan dikarenakan beliau juga memiliki beberapa kesibukan lainnya. Berikut verbatim wawancaranya :
Agiska         : Selamat malam Tante, maaf mengganggu malam-malam begini tan..
Tante Hutagalung   : Malam nak, iya gak apa-apa. Mari masuk, nak..
Agiska         : Iya tante, makasi tan.. tante, tadi Mama sudah telepon Tante ?
Tante Hutagalung   : Iya, tadi pagi Mama kamu sudah menghubungi Tante. Kamu mau nanya apa, nak?
Agiska         : Gini Tan, giska ada tugas kampus untuk mewawancarai guru. Tepatnya mata kuliah Paedagogi, Tan..
Tante Hutagalung   : Oh Paedagogi, iya iya.. Pertanyaan gimana rupanya,nak?
Agiska         : Bagaimana pendapat Tante mengenai pendidikan ?
Tante Hutagalung   : Menurut Tante, pendidikan itu adalah suatu hal yang dibutuhkan manusia untuk dapat bertumbuh dan berkembang dalam tiap aspek kehidupannya.
Agiska         : Oh, jadi menurut Tante pendidikan itu bisa sangat berguna ya Tan..
Tante Hutagalung   : Iya, benar sekali. Misalnya begini, dengan adanya pendidikan dalam arti manusia/individu memiliki pendidikan ia dapat menggunakannya untuk mencari pekerjaan sehingga ia tetap dapat menjalankan kehidupannya dengan baik.
Agiska         : Oh iya Tan, bener itu tan.. benar sekali. Aplikatif sekali ya Tan fungsi pendidikan ini.
Tante Hutagalung   : iya nak.. Karena begitulah tuntutan kehidupan jaman sekarang.
Agiska         : emm, selain itu tan apa motivasi Tante terkait dengan bidang pendidikan ini, Tan ?
Tante Hutagalung   : yah itu tadi nak, karena manusia itu harus hidup, berkembang dan mempertahankan kehidupannya. Tante yakin sekali setiap orang yang menerima pendidikan akan dapat mempertahankan kelangsungan kehidupannya, yah dengan cara menggunakan apa yang sudah ia pelajari di kehidupan sehari-hari yakni dengan bekerja dan mencari nafkah.
Agiska         : Iya tan, jadi bagaimana dengan individu yang tidak mengenyam pendidikan, Tan ?
Tante Hutagalung   : Nah, disinilah diperlukan peran besar pemerintah dan tentu saja guru-guru seperti Tante dalam berupaya semaksimal mungkin bagaimana menanggulangi orang-orang yang tidak mengenyam pendidikan.
Agiska         : Maksudnya bagaimana, Tan ?
Tante Hutagalung   : Begini nak, dalam mengajar kita sebaiknya tidak berfokus terhadap apa yang kita dapatkan melainkan kita harus berfokus pada bagaimana kita dapat benar-benar menyalurkan seluruh pengetahuan kita terhadap peserta didik. Untuk upaya yang lebih besar, juga sangat dibutuhkan peranan pemerintah dalam pengalokasian dana yang merata dalam hal pendidikan, khususnya bagi masyarakat kurang mampu.
Agiska         : Benar-benar terbuka sekali cara berpikir Tante ya..
Tante Hutagalung   : Memang harus begitu nak, jaman semakin canggih kalau masih berpikiran serba tertutup yah bagaimana mau maju kita.
Agiska         : iya Tan, benar tan,,benar sekali.
Agiska         : Selanjutnya Tan, bagaimana sudut pandang Tante sebagai seorang guru dalam melihat peserta didik ?
Tante Hutagalung   : Peserta didik atau murid merupakan objek. Mereka adalah objek yang harus dididik tapi mereka juga harus dilibatkan dalam proses belajar-mengajar,misalnya sebagai seorang guru tidak boleh melulu hanya guru yang memberikan materi tetapi murid juga harus mengutarakan pendapatnya berkaitan dengan materi.
Agiska         : Oh, komunikasi dua arah ya Tan ?
Tante Hutagalung   : Iya nak, jadi prosesnya pun ga gitu-gitu saja.. lama-lama bosan juga kalau guru terus yang bercakap-cakap di depan.
Agiska         : Ahaha, iya Tan.. murid pun bosan. Lalu apalagi Tan ?
Tante Hutagalung   : Selain itu, mereka pun perlu dimotivasi untuk berupaya mencari informasi berkaitan dengan materi pelajaran.
Agiska         : Informasi gimana Tan ?
Tante Hutagalung   : Yah informasi berkaitan nak, kan sekarang udah serba canggih. Kan murid-murid bisa browsing dari internet.
Agiska         : Wah, berarti boleh bawa laptop atau menggunakan gadget ya Tan ?
Tante Hutagalung   : Ya boleh nak, jadi informasi yang didapat pun bertambah ga hanya itu-itu saja.
Agiska         : Jadi, Tante juga menggunakan fasilitas yang mendukung ya Tan?
Tante Hutagalung   : Pastinya nak, sebagai guru kita juga harus tau apa yang dilakukan murid kita, guru juga ga boleh kalah majunya nak. Guru harus dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan TIK sekarang sehingga kualitas sebagai pembimbing dan motivator pun semakin meningkat.
Agiska         : Ternyata Tante sangat-sangat memperhatikan aspek-aspek yang dapat mendukung ya Tan..
Tante Hutagalung   : Bisa saja kamu nak, namanya juga seorang guru. Kita bertanggung jawab atas kemajuan murid kita.
Agiska         : Selanjutnya Tan, apa filosofi Tante dalam mengajar ?
Tante Hutagalung   : Filosofi ya ? emm.. Mengajar adalah pekerjaan yang menyenangkan karena sebagai pengajar kita menjadi pemberi yang tak pernah kehilangan.
Agiska         : Benar juga ya Tan, seberapa banyak pun ilmu yang diberikan, sebagai seorang guru tidak akan pernah merasa kehilangan apapun.
Tante Hutagalung   : Iya nak, malahan kita bisa saling bertukar informasi dengan murid. Tidak ada salahnya kan ?!
Agiska         : Iya tan, tidak ada kata salah atau terlambat dalam belajar.
Agiska         : Pertanyaan terakhir tan, pendekatan apa yang Tante gunakan sewaktu mengajar ?
Tante Hutagalung   : Banyak nak, ada  ceramah, diskusi, praktek, hapalan dan pemberian tugas. Kalau berdiskusi, caranya begini. Nanti ada semacam presentasi, jadi per kelompok mencari informasi sesuai materi yang ditentukan dan kemudian dipresentasikan di depan kelas. Nah kemudian akan ada tanya jawab. Dengan begitu, suasana belajar-mengajar pun tidak membosankan.
Agiska         : Iya ya Tan, kalau setiap kali Tante saja yang berbicara di depan pasti membosankan.
Tante Hutagalung   : Iya nak, mana ada yang mau dengar kalau begitu apalagi Tante mengajar anak SMA, taulah kan seperti apa.
Agiska         : Iya Tan hehehe. Sepertinya Tante benar-benar memahami bagaimana mengajar ya Tan..
Tante Hutagalung   : Ahaha, biasa saja kok nak.. Ada lagi pertanyaan kamu nak?
Agiska         : Engga ada lagi Tan, itu saja. Doain giska ya Tan, supaya bagus nilainya ehehehe..
Tante Hutagalung   : Iya nak, mudah-mudahan ya. Kalau ada yang kurang, nanti kamu telpon aja Tante jangan sungkan-sungkan.
Agiska         : Iya Tan, makasi banyak ya Tante. Giska permisi pulang ya Tan, sampai ketemu Tante..

BAB III PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil wawancara pada Bab II, diketahui bahwa subjek wawancara merupakan seorang guru yang sangat mementingkan kemajuan murid-muridnya, khususnya dengan strategi –strategi mengajar berbasis teknologi informasi komunikasi (TIK).

Apabila dikaitkan dengan kelima strategi mengajar pada bab Mengajar, Ahli Pedagogi, dan Paradigma Belajar, sub bab Paradigma Belajar, maka Ibu R.M.Hutagalung sudah menggunakan 3 dari 5 strategi yang ada yaitu :
-     Strategi 2       : Beliau menggunakan pendekatan ceramah dan menjelaskan materi kepada murid-muridnya. Beliau menyajikan informasi yang sudah dipersiapkan sebelumnya secara matang, agar murid-murid mudah memahaminya.
-     Strategi 3       : Pada saat berdiskusi di kelas, beliau bersama-sama mencari dan menemukan pemecahan masalah berkaitan dengan pelajaran kimia baik melalui internet maupun praktik langsung di laboratorium kimia.
-     Strategi 4       : Adanya pembagian kelompok presentasi, yang berguna untuk dapat saling mendiskusikan materi yang ada. Sehingga pada saat dipresentasikan, kelas pun dapat mengeksplorasi pengetahuan dan materi.

Selain menggunakan ketiga strategi mengajar diatas, Ibu R.M.Hutagalung juga memenuhi 5 kualitas guru terbaik, yaitu :
a.    Confidence. Beliau yakin bahwa ia dapat menangani situasi selama mengajar. Ia yakin bahwa niat yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Beliau juga yakin bahwa strategi mengajar yang ia gunakan dapat membantu meningkatkan kemauan murid untuk belajar, terlebih lagi dengan adanya modifikasi sesuai dengan kemajuan TIK.
b.    Patience. Beliau memiliki tingkat kesabaran yang cukup baik, mengingat murid yang ia ajar adalah remaja. Sehingga beliau merasa perlu memahami hal-hal yang dapat menarik keinginan remaja untuk belajar, dengan cara beliau pun mengikuti perkembangan penggunaan teknologi dalam proses belajar-mengajar.
c.    True compassion for their students. Beliau benar-benar terlihat mengasihi muridnya, hal itu terlihat dari banyaknya waktu yang ia gunakan untuk mencari dan mendalami materi kimia.
d.    Understanding. Beliau memiliki gaya mengajar yang fleksibel, tidak monoton sehingga dapat membangunkan niat belajar murid-murid. Terlihat dari berbagai bentuk strategi mengajar, seperti ceramah, diskusi, praktek,hapalan dan pemberian tugas.
e.  The ability to look at life in a different way and to explain a topic in a different way. Beliau tidak menggunakan gaya mengajar yang sama di tiap pertemuan. Beliau memahami sifat dan karakteristik remaja pada umumnya, sehingga beliau tidak memberlakukan sistem pengajaran satu arah atau monoton yang dapat menurunkan kemauan belajar murid-muridnya.

BAB IV KESIMPULAN

Adapun kesimpulan berdasarkan hasil wawancara dan pembahasan diatas adalah sebagai berikut :
1.     Pendidikan adalah suatu hal yang dibutuhkan manusia untuk dapat bertumbuh dan berkembang dalam tiap aspek kehidupannya.
2.    Pendidikan dapat digunakan untuk mencari pekerjaan sehingga manusia tetap dapat menjalankan kehidupannya dengan baik.
3.    Pengajar sebaiknya tidak berfokus terhadap apa yang didapatkan melainkan berfokus pada bagaimana pengajar dapat benar-benar menyalurkan seluruh pengetahuannyaterhadap peserta didik. Untuk upaya yang lebih besar, juga sangat dibutuhkan peranan pemerintah dalam pengalokasian dana yang merata dalam hal pendidikan, khususnya bagi masyarakat kurang mampu.
4.    Peserta didik atau murid merupakan objek, yang harus dididik tapi mereka juga harus dilibatkan dalam proses belajar-mengajar,misalnya sebagai seorang guru tidak boleh melulu hanya guru yang memberikan materi tetapi murid juga harus mengutarakan pendapatnya berkaitan dengan materi.
5.    Murid perlu dimotivasi untuk berupaya mencari informasi berkaitan dengan materi pelajaran, khususnya dengan memanfaatkan kemajuan TIK yang ada. Misalnya dengan browsing dari internet sehingga informasi pun akan semakin bertambah.
6.    Guru harus dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan TIK sekarang sehingga kualitas sebagai pembimbing dan motivator pun semakin meningkat.
7.    Terdapat beberapa pendekatan yang digunakan yakni ceramah, presentasi, diskusi, praktek, hapalan dan pemberian tugas.
8.    Komunikasi dua arah merupakan hal yang penting dalam proses belajar- mengajar.
BAB V TESTIMONI DAN SARAN

1.  TESTIMONI
·         Tugas wawancara ini melatih kemampuan saya dalam berkomunikasi dengan orang lain, khususnya dengan tujuan mencari tahu informasi dan sudut pandang orang lain.
·         Selain itu, wawancara ini juga mengubah persepsi saya mengenai individu yang lebih tua dari saya. Saya mengira pasti individu yang rentang usianya jauh diatas saya berpandangan tertutup terhadap hal-hal baru khususnya perkembangan teknologi.
·         Terakhir, saya merasa bahagia melihat ternyata sistem modifikasi pengajaran menjadi dua arah sudah diterapkan.

2.  SARAN
·         Sebaiknya dilakukan peng- up grade-an gaya mengajar guru-guru, khususnya melibatkan penggunaan TIK.
·         Pemerintah diharapkan melakukan penyerataan alokasi dana sekolah, sehingga tidak ada perbedaan sistem pengajaran baik di desa maupun kota.

BAB VI DAFTAR PUSTAKA

Danim, Prof. Dr. Sudarwan Danim. 2010. Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung: Penerbit Alfabet.





Jumat, 12 April 2013

UTS 2012/2013


1.    Uraikan secara singkat dan padat proses pembelajaran yang kelompok Anda rencanakan. Beri ulasan atas uraian tersebut berdasarkan tinjauan paedaogi praktis abad 21. (skor 30)
Kelompok kami terdiri dari saya (Agiska), Chika dan Agita. Awalnya kami berencana untuk memberikan materi belajar membuat keterampilan dari kaleng bekas bagi adik-adik Panti Asuhan Simpang Tiga, Medan. Kami ingin mengajarkan mereka untuk membuat celengan dari kaleng susu bekas, dengan tujuan agar mereka lebih semangat untuk menabung uang saku mereka. Namun setelah berdiskusi dengan Bu Dina, kami akhirnya batal memberikan materi tersebut dikarenakan pertimbangan terkait dengan alat dan bahan yang dibutuhkan. Kami sadar bahwa bagaimana apabila selanjutnya mereka ingin membuat sendiri, maka mereka harus membeli bahan pelengkapnya berupa kain flannel dan cat cair. Maka, kami mengurungkan niat kami tersebut.
Selanjutnya, kelompok semakin bingung mengenai materi apa yang akan kami berikan. Sesuai dengan saran dari Bu Dina, kelompok pun melakukan observasi ke Panti Asuhan tersebut, melihat materi apa yang sebaiknya kami berikan, tentu saja sesuai dengan kebutuhan mereka. Namun, kami pun tidak menemukan adanya kekurangan-kekurangan signifikan pada mereka. Hal tersebut dikarenakan mereka semua diurus dengan baik dan benar oleh Abang dan Kakak pemilik panti. Semuanya tertata rapi, kebersihan juga selalu dijaga. Selain itu, mereka juga bersekolah dan mengikuti les mata pelajaran. Maka, kelompok pun semakin bingung dan benar-benar sulit menentukan materi apa yang sesuai. Akhirnya kelompok pun memutuskan untuk mengganti target pembelajaran, menjadi adik-adik kecil dengan rentang usia 4-7 tahun. Kami pun mulai mengumpulkan keponakan kami sendiri, yang hasilnya berjumlah 3 anak yakni Ibel, Egi dan Eyo. Walaupun kami sudah merasa lega karena target pembelajaran sudah terkumpul, tapi kami masih memikirkan materi apa yang cocok untuk diberikan. Alhasil, kami memutuskan untuk mengajari Ibel, Egi dan Eyo untuk membuat Rainbow Biscuit.
Rainbow Biscuit merupakan cemilah segar yang terbuat dari biscuit halus, susu coklat kental manis, dan sprinkle serta meses sebagai topping. Selain menyehatkan, cara pembuatan biscuit ini juga mudah dan praktis.

Apabila ditinjau dari segi Paedagogi Praktis Abad 21 (progressive pedagogy, maka perencanaan pembelajaran kelompok kami mengalami progress atau kemajuan yang berarti. Kelompok segera mencari alternative pilihan, yang awalnya ingin mengajari keterampilan dari kaleng bekas kepada adik-adik Panti Asuhan, observasi lanjutan ke Panti Asuhan,  menjadi mengajari keponakan-keponakan untuk membuat Rainbow Biscuit.

Adapun proses pelaksanaan pembelajaran yang sudah kami laksanakan adalah sebagai berikut :
Kegiatan
Pembelajaran
Perkenalan
Kelompok dan peserta pembelajaran memperkenalkan diri masing-masing yang disertai dengan gaya à hal ini berguna untuk dapat melatih rasa percaya diri adik-adik agar ia mampu dan tidak malu-malu untuk berkenalan dengan orang lain, serta menuntut mereka untuk dapat berkreativitas mengekspresikan gaya apa yang mereka inginkan sesuai dengan kemauan mereka sendiri.
Cuci tangan
Hal ini berguna untuk mengajarkan adik-adik mengenai pentingnya kebersihan diri yakni sebelum dan setelah melakukan kegiatan memasak atau makan.
Pemberian instruksi & perkenalan alat dan bahan
Hal ini mengajarkan adik-adik untuk dapat focus selama pemberian instruksi, dan pengajar juga memberikan pertanyaan berkaitan yang menuntut peran aktif adik-adik dalam kelompok.
Langkah 1. Proses penghancuran biskuit
Selama menghancurkan biskuit, adik-adik diajarkan untuk sabar hingga biskuit benar-benar hancur dan juga mengajarkan mereka agar biskuit yang dihancurkan tidak berserakan dan keluar dari dalam plastik (kerapian dan kebersihan).
Langkah 2. Proses penyaringan biskuit
Setelah biskuit sudah dihancurkan sampai hampir menjadi remahan, maka biskuit harus disaring untuk mendapatkan bubuk yang halus. Sisa biskuit yang masih kasar harus disaring kembali hingga menjadi bubuk juga. Hal ini mengajarkan adik-adik untuk bekerja dengan sepenuh hati, maksimal dan tidak membuang bahan yang tersisa.
Langkah 3. Penggunaan sarung tangan plastik
Sebelum berlanjut ke proses pencampuran/pengadonan biskuit, adik-adik harus mengenakan sarung tangan plastic terlebih dahulu demi tetap menjaga kebersihan makanan.
Langkah 4. Pengadonan biskuit
Setelah disaring, bubuk biskuit dicampurkan dengan susu kental manis cokelat hingga merata. Proses ini menuntut adik-adik untuk teliti saat mencampurkan bahan, dan tidak terburu-buru menuang susu yang ada. Mereka juga harus teliti melihat apakah susu dan bubuk biskuit sudah benar-benar tercampur rata dan siap dibentuk.
Langkah 5. Pembentukan adonan
Setelah benar-benar tercampur rata, adonan pun harus  dibentuk-bentuk bulat. Hal ini disertai dengan gerakan memutar yang dapat melatih motorik adik-adik, yakni apakah mereka mampu membentuk adonan menjadi benar-benar berbentuk bulat.
Langkah 6. Pemberian topping
Adonan sudah dibentuk bulat kemudian diberikan topping meses atau sparkling, yang bertujuan melihat seni kreativitas adik-adik apakah keseluruhan bagian adonan sudah benar-benar tertutup topping.
Langkah 7. Penyusunan adonan ke cup kertas
Setelah selesai diberi topping, adonan disusun ke cup kertas yang sudah disediakan. Hal ini menuntut keteraturan dan daya hitung adik-adik dalam menyusun adonan sesuai jumlah cup kertas yang tersedia.
Langkah 8. Memasukkan Rainbow Biscuit ke dalam kulkas
Melatih kesabaran adik-adik dalam menunggu biskuit hingga dingin dan siap dimakan.
Penutup
Kami berfoto bersama Ibel, Egi dan Eyo kemudian berpamitan.

* Perlu diketahui bahwa selama pembelajaran berlangsung, terjadi proses sosialisasi antara Ibel, Egi dan Eyo.

2.    Uraikan secara singkat dan padat tentang hasil observasi dari proses pembelajaran kelompok Anda. Beri evaluasi atas uraian tersebut berdasarkan tinjauan paedagogi, tik, dan fenomena kontemporer. (skor 50)
Berikut merupakan hasil observasi tiap anak, yaitu :
TAHAP
                             NAMA PESERTA
IBEL
EGI
EYO
Perkenalan
Menyebutkan nama dengan suara pelan dan duduk tenang.
Menyebutkan nama dengan suara pelan sambil menunduk, sesekali melihat ke arah pengajar.
Menyebutkan nama dengan suara keras, tersenyum, sambil menggoyang-goyangkan kaki.
Mencuci tangan
Mengantri di belakang Egi, mencuci tangan dengan sabun dan mengeringkannya.
Mengantri di belakang Eyo, mencuci tangan dengan sabun dan mengeringkannya.
Berjalan cepat menuju wastafel, mencuci tangan dengan sabun,  dan mengeringkan tangan.
Pemberian instruksi & perkenalan alat dan bahan
Mendengar instruksi, melihat ke arah pengajar, sesekali melihat ke Egi dan Eyo, memegang alat dan bahan yang sudah diberikan.
Mendengar instruksi, melihat ke arah pengajar, memegang alat dan bahan yang sudah diberikan sambil menggoyang-goyangkan kaki.
Mendengar instruksi, melihat kea rah pengajar, memegang alat dan bahan yang sudah diberikan.
Langkah 1. Proses penghancuran biskuit
Memukul-mukul biskuit hingga hancur, menimbulkan suara yang keras dan sesekali bertanya kepada pengajar ‘ini udah kak?’
Memukul-mukul biskuit hingga hancur, sesekali melihat hasil kerja Ibel dan Eyo.
Memukul-mukul biskuit hingga hancur, menimbulkan suara yang keras, biskuit keluar dari plastik.
Langkah 2. Proses penyaringan biskuit
Menyaring biskuit, beberapa kali bertanya ‘ini gimana kak?’, sesekali berhenti sejenak.
Menyaring biskuit, sesekali bertanya ‘kak, aku udah kak?’.
Menyaring biskuit, sesekali bertanya ‘kak, udah kak?’ sambil tersenyum dan menunjuk ke arah biskuit yang sedang disaring.
Langkah 3. Penggunaan sarung tangan plastik
Mengenakan sarung tangan plastic sambil mengatakan ‘kak, ini gimana kak?’
Mengenakan sarung tangan plastik, meminta bantuan ‘kak, ini kok gak bisa kak?’
Mengenakan sarung tangan plastic dan berkata ‘aku udah bisa kak’.
Langkah 4. Pengadonan biskuit
Mencoba mengikuti instruksi yang diberikan, dan mempraktekkannya namun sesekali mengatakan ‘kak, udah siap punya Ibel, kak?’
Mengikuti instruksi dan mempraktekkannya, dan mengatakan ‘kak, ini udah kak?’
Mengikuti instruksi tanpa bertanya.
Langkah 5. Pembentukan adonan
Mengikuti instruksi, bertanya ‘segini kak?’ dan ‘kayak gini kak?’, sesekali melihat ke  arah Egi dan Eyo.
Mengikuti instruksi, membentuk adonan menjadi bulat, sesekali melihat kea rah Ibel.
Mengikuti instruksi, membentuk adonan menjadi bulat, sesekali melihat kea rah Ibel dan Egi.
Langkah 6. Pemberian topping
Mengikuti instruksi, mencampur  kedua jenis topping yang ada, sesekali mengatakan ‘ini punya Ibel, kak’.
Mengikuti instruksi, melihat ke arah adonannya yang sedang diberi topping.
Mengikuti instruksi, melihat ke arah adonannya yang sedang diberi topping.
Langkah 7. Penyusunan adonan ke cup kertas
Menyusun ke cup kertas yang tersedia.
Menyusun ke cup kertas yang tersedia.
Menyusun ke cup kertas yang tersedia.
Langkah 8. Memasukkan Rainbow Biscuit ke dalam kulkas
Memasukkan biskuit ke dalam kulkas, duduk menunggu hingga dingin, sesekali membuka kulkas.
Memasukkan biskuit ke dalam kulkas, duduk menunggu hingga dingin, sesekali membuka kulkas.
Memasukkan biskuit ke dalam kulkas, duduk menunggu hingga dingin, sesekali membuka kulkas.
Memakan Rainbow Biscuit bersama-sama.
Memakan biskuit, sambil tersenyum.
Memakan biskuit sambil mencemberutkan wajah, meminta tambahan biskuit.
Memakan biskuit, sambil tersenyum dan menggoyang-goyangkan kaki.

Apabila hasil observasi diatas dievaluasi berdasarkan Tinjauan Paedagogi, TIK, dan Fenomena Kontemporer dengan sub topik Pedagogi Efektif yakni :
a)    Menciptakan lingkungan yang menunjang pembelajaran
b)    Mendorong pemikiran reflektif dan tindakan
c)    Meningkatkan relevansi pembelajaran baru
d)    Memfasilitasi pembelajaran bersama
e)    Membuat sambungan ke pembelajaran dan pengalaman sebelumnya
f)    Cukup memberikan kesempatan untuk belajar
g)    Menyelidiki hubungan belajar-mengajar
Namun, hasil observasi kelompok kami hanya dapat dievaluasi berdasarkan beberapa poin Pedagogi Efektif yaitu :
a)    Menciptakan lingkungan yang menunjang pembelajaran à kelompok melakukan pembelajaran di ruangan yang bersih dan aman, dan kelompok juga menciptakan suasana pembelajaran yang menarik disertai dengan komunikasi aktif dua arah.
b)    Memfasilitasi pembelajaran bersama à kelompok memfasilitasi pembuatan Rainbow Biscuit dengan alat dan bahan yang lengkap dan bersih.
c)    Cukup memberikan kesempatan belajar à kelompok memberikan kesempatan bagi peserta ajar untuk mengikuti instruksi yang telah diberikan, disertai dengan arahan.

3.    Tuliskan pandangan Anda tentang pembelajaran pada perkuliahan Paedagogi di Fakultas Psikologi USU semester genap T.A. 2012/2013 berdasarkan tinjauan Paedagogi Teoritis dan Prinsip-prinsip Paedagogis. (skor 20)
Pertama kali memasuki kelas Paedagogi, suasana yang awalnya pasif dan sama sekali tidak menarik berubah menjadi lebih bersemangat dengan adanya energizer ‘lempar  bola’ yang dilakukan. Kesan pertama tersebut membuat saya yakin bahwa proses berlangsungnya mata kuliah Paedagogi ini akan berbeda dari mata kuliah lainnya. Hal itu benar adanya! Bu Dina dan Bu Lita terus menerus memberikan stimulus kepada kami berupa pertanyaan-pertanyaan yang menuntut kami untuk berperan aktif di dalam kelas. Adanya kuliah online juga merupakan inovasi pengajaran berbasis teknologi yang menuntut kami untuk dapat aktif menggunakan aplikasi gtalk, yang dapat digunakan untuk berdiskusi dengan teman sekelompok, tak hanya secara tatap muka.Penggunaan aplikasi gtalk ini sesuai dengan penggunaan TIK dalam proses pembelajaran, yang dapat menciptakan peran aktif mahasiswa dan dosen dalam proses belajar mengajar. Hal ini juga sesuai dengan pengertian pedagogis menurut Danilov (1978) yakni proses interaksi terus-menerus dan saling berasimilasi antara pengetahuan ilmiah dan pengembangan siswa.